Cerita Sedih, Maafkan Aku Sudah Membuah Hidupmu Sial Ma

Category : Sastra
Cerita Sedih, Maafkan Aku Sudah Membuah Hidupmu Sial Ma
4 (80%) 4 votes

Cerpen ini sengaja saya sajikan bagi anda pecinta sastra yang suka membaca cerita sedih tentang orang tua, cerita ini dikarang oleh riko selaku pemilik website portalremaja.co.id khusus disajikan untuk pengunjung setia website ini. Bila anda ingin mencopy cerpen ini sebaiknya sertakan pengarangnya karena menjiplak karya sastra orang lain hukumnya adalah dosa dan cobalah hargai jerih payah orang lain selayaknya kita menghargai diri kita sendiri. Selain itu jangan lupa untuk share cerita sedih ini ke facebook, twitter dan google plus dengan mengklik logonya yang ada di sebelah kanan layar anda.

Cerita Sedih, Maafkan Aku Sudah Membuah Hidupmu Sial Ma

Cerita Sedih, Maafkan Aku Ma Sudah Membuat Hidupmu Sial

Disebuah kota anggap saja kota A hiduplah keluarga yang sangat rukun dan bisa dibilang berkecukupan bernama jono dan shinta. Mereka merupakan rantauan dari desa B yang cukup jauh dari tempatnya sekarang karena tuntutan pekerjaan. Mereka sudah menikah selama 4 tahun namun belum juga diberikan momongan oleh sang maha kuasa. Walaupun begitu, jono dan shinta masih tetap bahagia menjalani hari harinya layaknya keluarga biasanya. jono pergi bekerja dipagi hari dan shinta mengurus rumah serta menyiapkan sarapan untuk sang suami.

Pasangan ini sangatlah patuh dengan agama, mereka sadar bahwa mereka belum diberi kepercayaan oleh allah untuk memiliki seorang anak namun mereka tidak pernah bosan berdoa disetiap sujudnya. Hari demi hari terus berlanjut hingga tak lama kemudian jono menemukan seorang anak ketika ia sedang dalam perjalanan menuju kantornya. Di pagi itu jono melihat anak tersebut sambil merangkak memegang sebuah mobil mainan sedang menyendiri duduk di sebuah taman tanpa seorang pun menghiraukannya, karena iba jono pun menghampiri anak itu dan betapa terkejutnya jono ternyata anak itu tak memiliki telinga sebelah kanannya. Setelah bertanya kepada beberapa orang disekitar taman tersebut ternyata tak ada satupun orang yang mengenal anak tersebut hingga akhirnya jono pun membawa anak itu pulang kerumahnya. Lalu jono pun menceritakan apa yang ia alami pagi tadi dan istrinya pun dapat memaklumi hal tersebut.

Lalu ke esokan harinya jono & shinta pun mencoba menebarkan selebaran yang bertuliskan “bila ada yang kehilangan anak ini silahkan hubungi xxxx” dan menunjukan foto anak tersebut. Bukan cuma itu jono pun mencoba menyebarkannya melalui media setempat dengan harapan anak kecil yang malang tadi bisa menemukan orang tuanya lagi.

Hari demi hari terus berlalu namun tak ada satupun orang yang menghubunginya untuk menanyakan anak tersebut, jono pun memiliki inisiatif untuk mengangkat anak tersebut sebagai anaknya sebab memang ia sudah sangat ingin memiliki seorang anak agar rumahnya terlihat ceria. ia pun segera berdiskusi dengan istrinya shinta atas ide nya tersebut namun shinta sepertinya tak begitu setuju. “Apa mas yakin ingin mengangkat anak itu ? kita tidak tahu siapa dia, keturunannya seperti apa dan ia juga cacat mas” kalimat itu dilontarkan dari mulut shinta kepada suaminya. Sang suami pun dengan repleks nya langsung menampar sang istri dan mengatakan bahwa ucapan istrinya tersebut tidak patut diucapkan. Jono pun meyakinkan shinta bahwa anak cacat pun butuh kasih sayang sama seperti anak anak diluar sana, bukan berarti ia cacat dan kita harus menelantarkannya. Karena takut istrinya pun menyetujui ide sang suami walaupun dengan sedikit keterpaksaan.

Mulai saat itu jono dan shinta pun merawat anak itu dan anak itu pun ia beri nama ian. Jono sangat senang dengan ian dan tampaknya ia pun mulai sayang kepada anak tersebut. Tapi sayangnya shinta yang memang dari awal kurang setuju suaminya mengangkat anak tersebut tak memiliki rasa yang sama, walaupun tidak terlalu nampak tetapi di hati shinta ia tidak suka terhadap ian.

Karena malas untuk mengurus ian, shinta pun sontak berbicara pada suaminya bahwa ia capek mengurus anak dan berharap suaminya mengerti untuk mempekerjakan seorang baby sister untuk merawat ian. Suaminya pun setuju dan menyerahkan semua urusan ian kepada baby sister nya.

Sekarang umur ian sudah masuk 3 tahun dan ia pun sudah beranjak berdiri dan sudah mulai belajar berbicara walaupun masih terbata bata. Jono pun tambah sayang kepada anak angkatnya dan setiap pulang kerja ia sering mengajak ian jalan jalan dan main bersama.

Hari demi hari, tahun demi tahun pun dilalui hingga ian pun sekarang telah berumur 5 tahun, saat itu dirumah shinta sedang mengadakan arisan ibu ibu. Namun hal yang tidak di inginkan pun terjadi. Saat shinta sedang berbincang ria bersama teman temannya ian datang sambil mengatakan “mama, ian lapar, tolong ambilkan ian makanan ma” , karena memang hari itu baby sister ian sedang ambil cuti karena ada masalah keluarga dikampungnya. Namun sesaat setelah ian memanggil mamanya, semua teman shinta yang sedang berkumpul langsung menertawakan shinta. Mereka semua mengejek shinta karena anaknya cacat tanpa telinga sebelah. Karena malu shinta langsung menarik ian masuk kekamar dan memukul ian sejadi jadinya . Shinta mengatakan pada ian jangan memanggil nya mama saat ia sedang bersama teman temannya. Shinta tidak mau mengucapkan bahwa ian adalah anak angkat ke teman temannya karena ia sudah berjanji kepada suaminya tidak ingin memberitahukan siapapun tanpa terkecuali akan hal tersebut.

setelah kejadian itu ian pun takut kepada mamanya, ia tidak berani lagi memanggil mamanya apalagi memeluk mamanya. Namun ian pun juga tidak memberitahukan kejadian itu kepada papa nya karena ian tak ingin kedua orang tuanya bertengkar karenanya.

Ketika ian mulai masuk sekolah, anggap saja ian bersekolah di SD A ia pun minder karena semua temannya mengejek ian. Ian hanya bisa menyendiri menangis, tak seorang pun mau berteman dengannya karena ia cacat. tapi tetap saja ian adalah orang yang berbakti kepada orang tua, ia tak mau membuat susah orang tuanya sehingga kesedihannya hanya dipendam sendiri.

Singkat cerita, tahun demi tahun pun berlalu. Ian pun sekarang sudah besar, ia sekarang duduk di bangku SMP dan besok adalah hari kelulusannya. Karena saat hari kelulusan yang harus menghadiri acara kelulusan tersebut adalah orang tuanya maka ian pun mencoba mengatakan hal tersebut pada mamanya karena ia kasihan dengan papanya bila harus cuti kerja lagi karenanya. Namun hal tersebut terulang kembali, mamanya malah membentaknya dan mengatakan tidak akan pergi ke acara kelulusan tersebut. Ian pun masuk kekamarnya dan meneteskan air matanya, “apa salah saya ma, mama kenapa benci sekali dengan saya padahal saya selalu berbakti dengan mama. Apa karna saya cacat mama jadi benci dengan saya” ucap ian dalam rintihan disudut kamarnya. Karena terpaksa ian pun berbicara kepada papanya dan berharap papanya bisa hadir dan ya jono pun mengatakan ia akan hadir ke acara kelulusan ian dan ian sangat bahagia mendengar jawaban dari papanya tersebut.

Waktu yang ditunggu tunggu pun datang, hari ini ian dan papa nya berangkan ke SMP tempat ian sekolah. Ketika acara berlangsung , ian dan papanya dipanggil ke atas panggung. Ternyata ian mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya dan mendapatkan beasiswa melanjut ke SMA terbaik di kota tersebut. Jono pun meneteskan air mata sambil memeluk ian, ia mengucapkan bahwa ia sangat bangga atas prestasi anaknya tersebut. Setelah menerima piagam mereka pun pulang kerumah dan ian langsung mencari mamanya dan bermaksud memberitahukan kabar baik tersebut. Tapi shinta tak menghiraukannya sedikitpun yang membuat ian sedih kembali, karena ia sudah masuk remaja ia pun sadar bahwa dirinya memang dibenci oleh mamanya, dia tidak bisa membuat mamanya bangga walaupun dengan prestasi yang tak semua anak bisa berikan kepada orang tuanya.

Hari demi hari pun berlalu begitu cepat, ketika ian mulai beranjak masuk SMA kelas 2 , jono pun mulai sakit sakitan dan akhirnya meninggal. Shinta dan ian sangat sedih atas musibah tersebut namun apalah daya, nyawa jono tak akan mungkin kembali lagi walau air mata menetes terus menerus. Hari itu adalah hari yang sangat menyedihkan untuk ian sekaligus hari malapetaka untuk nya dimana tak akan ada lagi orang yang melindunginya, mendengarkan keluh kesahnya, mengajarinya, dan menyayangi dirinya.

Setelah kepergian jono, shinta pun makin benci kepada jono, bahkan untuk menegur jono pun enggan. Ian pun mencoba menenangkan ibunya, setiap hari ian memasak, mencuci dan melakukan semua pekerjaan rumah sendirian. Mereka pun kini mulai jatuh miskin sebab semua harta yang mereka miliki telah habis untuk mengobati jono berobat ketika sakit kemarin.

Bersambung … Tunggu part 2 nya segera akan saya buat nanti, stay saja terus di portalremaja.co.id ya.

loading...